BUS BOCOR DAN PAYUNG AJAIB ☔



Hari itu, suasananya adem banget. Angin semilir, langit biru cerah tanpa awan, dan matahari lagi nggak nyengat — pokoknya vibe-nya enak banget buat pulang sekolah santai. Jam pelajaran terakhir baru aja kelar, dan semua langsung heboh keluar kelas untuk melaksanakan ibadah sesuai kepercayaan masing masing. Sebelum pulang, sekolahku punya kebiasaan yaitu opera bersama dan menyanyikan lagu wajib sebelum pulang sekolah. Selesai semua kegiatan kita langsung bersiap siap dan ada juga yang langsung teriak, “Cepet! Nanti busnya penuh!” 

Aku dan temen-temen langsung lari ke arah parkiran tempat bus sekolah biasa nunggu. Busnya udah keliatan dari jauh, dengan suara mesinnya yang khas banget: agak serak, kayak bapak-bapak yang baru bangun tidur. Tapi meskipun udah tua dan catnya mulai pudar, bus itu udah kayak bagian dari kehidupan kami bus itu menjadi saksi bisu drama, tawa, dan gosip anak-anak tiap pulang sekolah.
Begitu naik bus, suasananya langsung rame. Ada yang rebutan kursi belakang (karena katanya lebih seru), ada yang nyetel musik dari HP, dan ada yang malah makan gorengan di pojokan sambil bilang, “Tenang, nanti gue buang bungkusnya.” Aku duduk di samping jendela bersama Rina. Kita ngobrolin hal-hal receh, dari guru killer, gosip kelas lain, sampai rencana nongkrong pas weekend. Pokoknya, vibe abis ujian chemistry dan math gitu so otak udah males mikir, tinggal pengen ketawa dan rebahan.

Di luar, langit masih cerah. Tapi sekitar lima belas menit kemudian, anginnya mulai kencang. Daun-daun beterbangan, langit mulai gelap. Rina nengok ke jendela sambil bilang, “Eh, kayaknya mau hujan deh.” Aku cuma nyengir, “Santai aja, paling gerimis doang.” 

Ternyata aku salah besar. Baru beberapa menit, hujan langsung turun deres banget. BYUURRR! Airnya kayak disiram dari ember raksasa. Suara hujannya sampai nutupin suara musik di dalam bus. Sopir langsung nurunin kecepatan, tapi masalahnya bus kami nggak tahan ujan.

Bocor di mana-mana! Dari langit-langit mulai netes, jendela ngembun parah, dan dari sela pintu depan air masuk kayak air terjun mini. Semua orang langsung heboh. Ada yang teriak, “Woy bocor! Sini ember, ember!” tapi tentu aja nggak ada ember. Jadi ya solusi paling cepet, semua buka payung. Bayangin aja, satu bus penuh siswa, duduk sambil buka payung warna-warni di DALAM bus! Yang tinggi-tinggi susah gerak, yang duduk di pojok ketusuk ujung payung orang. 

Suasana jadi absurd tapi kocak banget. “Gila, ini bus atau taman bunga portable?!” “Wah, keren nih, bus waterproof edition!” Hujan makin deras, tapi anehnya, makin rame juga suasana di bus. Ada yang nyanyi bareng lagu TikTok yang entah kenapa semua hafal, ada yang ngelucu soal payung bocor, dan ada yang foto-foto sambil bilang, “Nanti caption-nya: ‘tetap ceria walau bocor bersama’.

”Di tengah kekacauan itu, sopir cuma ngelirik lewat kaca spion dan senyum kecil. Mungkin dia udah terbiasa dengan kelakuan anak-anak sekolah ini. Walaupun agak repot, suasananya tetap hangat. Bener-bener kayak keluarga besar yang aneh tapi seru. Pas akhirnya bus sampai di depan halte, hujan masih belum berhenti. Tanah udah becek, sepatu semua basah, tapi nggak ada satu pun yang ngeluh. Justru semua masih ketawa-ketawa, ngelawak, dan saling olok, “Eh, lo tadi payungnya bocor, kan? Pantes aja baju lo kayak mie instan basah!” Aku berdiri sebentar di depan bus sebelum turun. Air hujan masih turun deras, tapi aku ngerasa aneh hati malah hangat.

Bus yang bocor, baju yang lembab, rambut acak-acakan, semua itu ternyata nggak bikin kesal. Karena di balik semua kekacauan itu, ada tawa dan kebersamaan yang nggak bisa diganti. Kadang, hal-hal kecil yang kelihatannya nyebelin justru jadi momen yang paling berkesan. Kayak perjalanan di bus bocor hari itu lucu, berisik, basah, tapi penuh kenangan.


Dan dari situ aku belajar satu hal: Hidup itu nggak selalu berjalan mulus. Kadang bocor, kadang hujan deras datang tiba-tiba. Tapi kalau dijalani bareng orang-orang yang bikin kita ketawa, semuanya tetap terasa hangat dan menyenangkan. 🌧️

Posting Komentar

0 Komentar