Aku, pelajar yang tinggal dan bersekolah di tengah hamparan perkebunan tebu. Rumahku jauh dari sekolah. Jauhnya tuh… kalau aku lempar sepatu ke arah sekolah, pasti yang nyampe duluan sepatu bekas orang lain.
Setiap
pagi aku dijemput bus sekolah yang selalu on time, lebih disiplin daripada
alarm HP-ku sendiri. Alarm bisa aku snooze, tapi bus sekolah? Telat dua menit
aja, wassalam, tinggal liat debu doang. Jadi tiap pagi aku lari-larian kayak
atlet lari jarak pendek, sambil doa, “Ya Tuhan, jangan sampai aku jadi konten
TikTok tetangga gara-gara ngejar bus.”
Hari itu sekolah berjalan seperti biasa: belajar, nyatet, bengong, berkhayal jadi sultan, terus balik lagi ke realita. Jam pulang tiba, kami semua masuk bus sekolah dengan energi tinggal 12%, kayak HP lowbat tapi dipaksa buka aplikasi berat.
Tapi…
keberuntungan sedang pengen bercanda.
Baru
jalan setengah perjalanan, tiba-tiba bus berhenti. Macet, pas di tengah kebun
tebu. Sejauh mata memandang isinya cuma daun tebu, batang tebu, dan pikiran
tebu.
Supir
bilang, “Mesin panas, ya sabar ya anak-anak.”
Sabar?
Harusnya kami panik, kesel, atau minimal ngeluh. Tapi justru kami semua:
“YESSS!”
Gimana nggak senang? Ini
momen emas. Momen langka. Momen di mana tugas, guru killer, dan rumus
matematika tiba-tiba tidak ada.
Di
dalam bus kami langsung berubah jadi komunitas tawa nasional.
Ada
seorang temen cewek yang tiba-tiba nge-live, “Hai bestie, hari ini kita kena
macet edisi kebun tebu. Aesthetic banget sumpah!”
Ada
juga temen cowok yang mendadak jadi komedian dadakan, “Guys tenang, kalau
kehausan tinggal peras tebu di kiri, kalau lapar… ya sabar aja sih.”
Aku
sendiri duduk di bangku tengah sambil ngakak sampai perut kram. Anginnya masuk
dari jendela, sepoi-sepoi, baunya daun tebu bercampur aroma keringat satu bus,
tapi entah kenapa rasanya bahagia banget.
Kita
main tebak-tebakan receh yang kalau dipikir sekarang, nggak lucu sama sekali,
tapi saat itu bikin satu bus gegulingan.
“Kenapa
tebu nggak pernah pacaran?” tanya temanku.
“Kenapa?”
“Soalnya
dia terlalu manis buat disakiti.”
Satu
bus: “UWWOOOIIIII!!!”
Lalu
ada yang nyetel lagu dari speaker HP, terus kita karaoke massal. Suaranya?
Jangan ditanya. Kalau ada mic bisa langsung pecah.
Macetnya
cuma 20 menit, tapi rasanya kayak 2 jam penuh ketawa dan healing gratis. Pas
bus mulai jalan lagi, kami justru kecewa.
“Astaga
udah beres aja macetnya?”
“Padahal
lagi seru-serunya.”
“Besok
macet lagi nggak sih?”
Aku
lihat keluar jendela, tebu-tebu bergoyang kena angin sore. Indah banget. Dan
aku senyum sambil mikir:
Kadang,
momen paling seru datang bukan dari rencana besar… tapi dari kejadian random
yang bikin kita lupa capek.
Bus
bergoyang, teman-teman masih ketawa, dan aku cuma bisa bilang dalam hati:
“Ternyata
macet di tengah kebun tebu itu nggak nyebelin… malah jadi kenangan manis.”
(Episode Bus Mogok)

0 Komentar